“Stop Marahi Anak Saat Tantrum!” Webinar Nasional Bongkar Cara Sehat Hadapi Emosi Si Kecil

 

Jakarta (Seputar Instansi) — Pusat Pengembangan Kompetensi Medistra Indonesia (PPKMI) bekerja sama dengan PT Sentra Ghatna Utama menggelar Webinar Nasional bertajuk Mengelola Temper Tantrum pada Anak dengan Sehat dan Positif Angka
tan 1 secara daring melalui kanal YouTube, Minggu (05/04/2026). Kegiatan ini mendapat perhatian luas dari para orang tua dan tenaga kesehatan yang ingin memahami cara tepat menghadapi ledakan emosi anak.

Webinar ini menghadirkan narasumber Dewi Rostaningsing yang memaparkan bahwa temper tantrum merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang anak. Secara umum, fenomena ini terjadi karena ketidakseimbangan antara emosi anak dan kemampuan mereka dalam mengontrolnya.

Dalam pemaparannya, Dewi menjelaskan bahwa karakter tantrum berbeda pada setiap tahap usia. “Pada usia 0–1 tahun biasanya dipicu kebutuhan fisik, usia 1–3 tahun karena frustrasi dan keterbatasan bahasa, sedangkan usia 3–5 tahun mulai belajar aturan dan kontrol diri,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa seiring bertambahnya usia, kemampuan regulasi emosi anak seharusnya semakin baik. Oleh karena itu, jika tantrum masih sering terjadi pada usia di atas 6 tahun, kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut, terutama dari aspek pola asuh dan lingkungan.

“Anak cenderung meniru apa yang ia lihat di rumah. Jadi pola asuh orang tua sangat menentukan bagaimana anak belajar mengelola emosinya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dewi menekankan bahwa pendekatan terbaik dalam menghadapi tantrum bukanlah dengan hukuman, melainkan dengan empati. Ia mengingatkan agar orang tua tetap tenang, memvalidasi perasaan anak, serta tidak melakukan kekerasan baik secara verbal maupun fisik.

“Anak yang sedang tantrum bukan sedang melawan, tetapi sedang meminta dipahami,” tegasnya.

Selain itu, penting bagi orang tua untuk memberikan batasan yang konsisten serta mengajarkan cara mengekspresikan emosi secara sehat. Dalam praktiknya, pendekatan dapat disesuaikan dengan karakter anak, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa mengabaikan aspek keamanan.

Pada sesi diskusi, Dewi juga menyoroti pentingnya pola tidur dalam mengontrol emosi anak. Ia menyebut bahwa gangguan tidur dapat memicu tantrum karena anak mengalami kelelahan dan ketidakstabilan emosi.

“Sleep training sangat penting. Orang tua perlu menjaga rutinitas tidur anak agar emosinya lebih stabil,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa durasi tidur yang terlalu sedikit maupun berlebihan sama-sama berdampak kurang baik, sehingga diperlukan pengaturan yang seimbang oleh orang tua.

Menariknya, dalam diskusi juga dibahas fenomena tantrum pada usia dewasa. Dewi menilai bahwa kondisi tersebut tidak lagi dapat dianggap sebagai hal wajar, melainkan perlu ditelusuri lebih dalam penyebabnya, seperti stres, pola asuh masa lalu, atau ketidakmampuan mengelola emosi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa pengasuhan anak membutuhkan kesabaran, empati, serta pendekatan yang tepat. Dengan pola asuh yang sehat, anak diharapkan dapat tumbuh dengan kemampuan regulasi emosi yang baik dan kesiapan menghadapi kehidupan sosial.


Related Posts

Post a Comment

0 Comments